Friday, May 10, 2013

JANGAN MUDAH MENGELUARKAN FATWA.


By: Ibrahim Abdullah.
Para ulama salaf sangat takut dan berhati-hati dalam mengeluarkan sebarang fatwa bersabit dengan urusan agama. Kadang-kadang mereka tidak menjawab pertanyaan yang diajukan daripada masyarakat awam.
Mereka sangat menghormati orang yang berkata, “Aku tidak tahu” terhadap apa yang ia tidak selalu beranikan diri dalam memberikan fatwa tanpa mempertimbangkan kesalahannya. Hal itu kerana ulama salaf sangat menghormati dan mengagungkan masalah fatwa. Mereka sedar banyak orang yang akan mengikuti mereka jika sesuatu fatwa dikeluarkan.
Orang yang pertama kali takut memberi fatwa adalah para sahabat. Kebanyakan daripada mereka tidak mahu menjawab suatu pertanyaan yang diajukan masyarakat sebelum meminta pendapat sahabat yang lain.

Pada hal mereka adalah orang-orang yang diberikan oleh ALLAH SWT kecerdasan, kesucian, pertolongan dan kebenaran.
Bagaimana begitu? Ini kerana Rasulullah SAW sendiri kadang-kadang ditanya tetapi tidak mahu menjawab sebelum Baginda bertanya kepada Jibril.
Demikian juga al-Khulafa ar-Rasyidin, pada hal mereka adalah orang-orang diberi ilmu yang luas oleh ALLAH TAALA. Jika mereka mendapatkan kesulitan dalam suatu pertanyaan, mereka mengumpulkan para sahabat dan orang-orang yang berilmu.
Mereka bermusyawarah serta meminta pendapat antara mereka. Dari sinilah timbul fatwa Jumhur Ulama (ijtimak) pada generasi pertama.
Utbah bin Muslim berkata, “Tiga puluh empat bulan lamanya aku bersahabat dengan Abdullah Ibnu Umar, kebanyakan pertanyaan yang diajukan kepadanya ia selalu menjawab, “Aku tidak tahu.”
Atha bin Saib memberikan kesaksian, “Aku dapati beberapa kaum jika salah seorang daripada mereka ditanya tentang suatu permasalahan agama, maka ia menjawab dengan gementar (kerana takut keliru) - Kitab al-Ahkam.
Umar bin Khattab r.a pernah berucap, “Orang yang paling berani berfatwa adalah yang paling berani masuk neraka.” - Kitab al-Talkhis.
Jika kita membicarakan tentang para ulama tabiin, kita jumpai yang paling alim di antara mereka adalah Said bin al-Musayyib r.a namun jarang sekali beliau menyampaikan fatwa kecuali disertai doa, “Ya ALLAH, selamatkan aku dan selamatkanlah ucapan dariku.”
Qasim bin Muhammad, salah seorang daripada tujuh ahli fikah di Madinah pernah ditanya tentang suatu masalah. Ia menjawab, “Aku kurang faham,” maka orang itu bertanya kembali, “Sesungguhnya aku datang kepadamu kerana aku tidak tahu orang alim selain dirimu.” Maka Qasim berkata kepadanya, “Janganlah kamu melihat panjangnya janggutku dan banyaknya orang yang ada di sekitarku. Demi ALLAH aku kurang tahu permasalahan itu.”
Berkomentarlah seorang tua dari Quraisy yang duduk di sampingnya, “Wahai putera saudaraku, jawablah pertanyaan itu, demi ALLAH di majlis ini tidak ada orang yang lebih pandai darimu.” Jawab al-Qasim, “Demi ALLAH, lebih senang aku dipotong lidahku daripada aku harus mengatakan sesuatu yang tidak aku tahu.”
Bagaimana dengan kita sebagai umat Islam? Sangat mudah kita memberikan fatwa apa pun pertanyaan yang datang.
Setiausaha Agung Rabitah Alam Islami, Syeikh Dr Abdullah bin Abdul Mukhsin al-Turki ketika memberi sambutan dalam pembukaan International Conference on Fatwa di Jakarta baru-baru ini, yang dihadiri dari berbagai negara termasuk Malaysia menyatakan, dengan dukungan fatwa umat Islam dalam beribadat tidak ragu-ragu lagi dalam menjalankannya.

Mereka dapat melakukan ibadat dengan benar dan baik selaras syariat Islam. Walau bagaimanapun ulama yang mengeluarkan fatwa hendaklah atas nama ALLAH dan berhati-hati.
“Ulama tidak boleh berbohong dan setiap ulama, dalam mengeluarkan fatwa perlu memperhatikan keluasan ilmu pengetahuan serta kedalaman hukum-hukum Islam. Dalam masa sama, mereka juga memastikan diri terbebas daripada kepentingan peribadi yang bersifat praktis dan politik serta hendaklah bersumberkan daripada wahyu al-Quran dan as-sunnah,” ujarnya.

International Conference on Fatwa merupakan forum ilmiah yang melibatkan banyak tokoh, para ulama, pemikir, dan kaum intelektual dari berbagai negara.

Konferensi ini diharap tidak semata-mata menjadi medan bertukar fikiran antara peserta, tetapi juga membangun satu kesatuan konsep dan pandangan daripada para peserta dalam menangani berbagai permasalahan atau isu-isu semasa yang sensitif berkaitan Islam yang sedang berkembang di berbagai penjuru dunia antarabangsa.

No comments:

Post a Comment

Pengikut

Tajuk-Tajuk Menarik