Tuesday, June 2, 2015

RINDU MUHAMMAD KU.....

Di sepanjang jalan
Kulihat lorong-lorong kegelapan
Berdiri gagah wajah-wajah kalah,
Sedang diri semakin parah,
Dibiarkan terus lemah.

Dulu aku adalah yang percaya,
Berlari menyambut cahaya,
Meski badai bertubi di depan mata,
Namun ku bahagia,
Melihat di sisi ada baginda.

Kini seolah yang ada,
Hanyalah derita,
Jaluran hidup nafsi-nafsi yang membelenggu
Penjara teori dan cakap kosong yang menipu,
Aku tidak tahu,
Apakah ini bergerak seperti yang kau mahu?

Aku rindukan suasana dulu itu,
Muhammadku.

Di mana-mana sesama saudara,
Umat saling cakar berebut benar,
Karya-karya hina pemuka agama,
Politik dusta pemimpin kita,
Semuanya seiringan,
Berjalan angkuh dengan kesalahan.

Quran dan sabdamu hanyalah kenderaan,
Untuk membolot kepentingan,
Aku tinggalkan mereka itu,
Jahiliah mendodoi memanjakanku,
Aku tinggalkan,
Keluar mencarimu dalam sepi rinduku.

Ku ingat zaman tika kita kuta,
Engkaulah inspirasi terhebat,
Berjuang tak kenal penat,
Tika rehat hanyalah jihad.

Tetapi hari ini ummat,
Berteduh lena di bawah payung rehat,
Mencanai rasa lemah dan kuat,
Dengan namamu Muhammad.

Tika engkau dilontar perut unta,
Menahan peritnya seksa,
Agar kami kenal harga syurga,
Tapi kami berebut mengejar dunia,
Jijik menjadi anjing neraka.

Cintamu pada kami,
Tiadalah tandingan dunia ini,
Ummati, ummati, ummati,
Derita apapun kau tempuhi,
Medan Uhud jadi saksi,
Tika besi menembus gusi,
Saat perut lapar kau ikat diri,
Engkau tak pernah henti,
Menyebar cinta pada kami.

Engkau sudah tiada,
Dan Bilal tinggalkan duka,
Membawa kenangan pergi bersama,
Terbang pulang bawa kami ke zaman mula.

Tika Bilal melagukan suara,
الله أكبر الله أكبر
أشهد أن لا إله إلا الله
أشهد أن محمد رسول الله

Azan itu,
Azan itu kembalikan rindu,
Makkah tangis menahan sendu,
Lemah untuk teruskan,
Hiba jiwa disapa kenangan.

Air mata mereka berderai,
Mengenang zaman kuat bersama baginda,
Tetapi air mata kita berjurai,
Mengenang zaman lemah dalam dosa.

Apakah ada Muhammadku,
Di jiwa kalian, kita dan aku?
Aku rindukanmu.

Nama pembangun kekuatan,
Kisah pengubat kelemaha,
Pasti wajahmu lebih menenangkan.

Bukanlah masanya,
Jika sekarang aku pilih berhenti,
Aku akan malu berdepan baginda,
Perjuangannya terhenti tika mati,
Tetapi aku berhenti sebelum harus pergi,
Siapa aku di sisinya nanti?

Inilah masanya,
Untukku teruskan kerjanya,
Bangun penuh kekuatan,
Meski di depan berjuta halangan.

Sekian banyak Abu Jahal dan Abu Lahab,
Menitis dalam umat ini,
Tetap tidak aku geruni.

Bersedialah ku datang,
Kaliankan ku tentang,
Jahiliah yang bersarang,
Tumbangkanlah.

Nanti bertemu kasih jiwa,
Biar dia tersenyum melihat kita.

Inilah tanda cintaku,
Untukmu Muhammadku,
Sungguh ku rindukanmu.

Nukilna: Abdul Rahman CA.

No comments:

Post a Comment

Pengikut

Tajuk-Tajuk Menarik